Thursday, September 06, 2007

VALENTINE, CITARASA, BOGARASA ATAU SINAR MEKAR?

Lembaga usaha kue kering disambut hangat oleh mereka. Kami hanya memfasilitasinya dengan penjelasan secara umum sebuah cikal bakal lembaga komersial, mulai dari divisi perencanaan sampai pemasaran serta penjelasan tugas-tugas pokok masing-masing divisi. Nah selanjutnya mereka sendiri yang berjalan. Terlihat ada kemandirian dengan penunjukkan ketua secara langsung dan demokratis juga anggota yang menangani masing-masing divisi itu. Memang, mereka agak canggung dan malu bahkan sempat menolak ketika namanya dicalonkan tapi semangat dan motivasi yang tinggi untuk maju dari keadaan mereka sebelumnya maka semunya itu luntur. Alhasil, terbentuklah lembaga usaha kue kering yang sederhana tapi punya target yang jelas. Sang ketua langsung menetapkan pertemuan selanjutnya agar dapat dibicarakan, jenis kue apa yang mereka akan produksi, branding, packing sampai harga yang akan dijual. Diskusi ini cukup berjalan agak panjang karena setiap ibu-ibu punya opini masing-masing, mereka harus menentukan nama apa yang cocok dari pilihan “Valentine”, “Citarasa”, “Bogarasa” atau “Sinar Mekar”. Atau harga yang bervariasi mulai dari 11.900 – 19.000 rupiah. Mereka juga sepakat, keuntungan yang sudah ada dari penjualan kue kering hasil lomba kepada ibu-ibu Pipebi dapat menjadi modal bersama untuk memulai. Bahkan lebih dari itu, mereka juga punya komitmen bersama untuk memberikan kontribusi masing-masing 20ribu/orang sebagai tambahan modal.
Menurut Etienne Wengger dalam buku Cultivating Communities of Practice tahun 2002, dari ketujuh prinsip dalam Communities of Practices, apa yang sudah dilakukan oleh ibu-ibu Mekarjaya, sudah memasuki tahap ketiga. Dimana setiap peserta telah menggambil partisipasi dan komitmen mereka dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Ketika diwawancarai ibu ketua lembaga mengaku bahwa kelompok usaha yang sudah terbentuk bukan saja profit oriented tapi juga dapat menyatukan social oreinted atau terjadi ikatan emosional antar ibu-ibu, dia percaya bahwa faktor inilah yang dapat menentukan keberlangsungan lembaga ini. Disamping itu anggota lainnya juga menyampaikan bahwa produk mereka bukan saja harus diminati di tingkat Mekarjaya, kecamatan Cimahi, kabupaten Cirebon atau Propinsi Jawa Barat bahkan harus sampai bisa menembus pasar global. Suatu mimpi yang tidak mungkin tidak terjadi. Maju terus ibu-ibu!

Labels: ,

Monday, September 03, 2007

THE FIELD OF HOPE

Bola sudah mulai bergulir. Program Desa Kita sudah memasuki tahap pengembangan ekonomi desa. Ibu-ibu diharapkan menjadi tulang punggung. Wajar saja karena Bapak-Bapak di Desa Mekar Jaya merantau ke Jakarta, sehingga populasi terbesar terdiri dari Ibu-Ibu. Penganan kering adalah potensi yang ada di hampir seluruh wilayah Jawa Barat dan membuat kue kering juga menjadi salah satu potensi yang ada di Desa. Masalah berikutnya adalah bagaimana meyakinkan mereka bahwa mereka juga bisa, sebagaimana halnya ibu-ibu lainnya.
Untuk menimbulkan harapan, semangat dan minat, dilakukan lomba kue kering dengan menggunakan resep yang mereka miliki. Ada yang mengambil dari Perpustakaan, namun ada pula yang mengambil dari khazanah Pribadi. Lomba dilakukan untuk memenangkan piala Ibu Bupati. Lomba tersebut memberikan mereka pengalaman dalam membuat kue. Pengalaman adalah bagian yang sangat penting dalam mengembangkan pengetahuan.
Berbekal pengalaman tersebut, Ibu-ibu diberikan kesempatan untuk menjual hasil jerih payahnya di perayaan Ulang Tahun lembaga. Hasilnya, cukup untuk standar desa, namun masih memerlukan peningkatan, khususnya dari proses maupun rasa. Namun tujuan untuk membangun harapan, semangat dan minat sudah mulai bertumbuh, karena Ibu-ibu berulang kali menanyakan kapan program akan berlanjut.
Upaya kedua dilakukan dengan mengundang tenaga ahli. Dixon menyebut upaya ini sebagai transfer of knowledge dari ahli. Untuk itu diundang Ibu-ibu dari Natural Cooking Club untuk mengajarkan proses pembuatan yang baik, benar dan bersih. Lengkap dengan celemek dan topi ala juru masak hotel berbintang lima, mereka bekerja dalam kelompok mengikuti setiap langkah yang diajarkan. Sebelumnya mereka juga diberikan kelas motivasi dan cara penghitungan sederhana bisnis kue kering. Lama pelatihan berlangsung 2 hari dan mencakup pula pengemasan kue. Hasilnya, sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, namun untuk berjaya di pasar masih memerlukan sentuhan lainnya. Berangkat dari sini diputuskan untuk membentuk Community of Practice kue di desa.
Terkait dengan hal tersebut, kembali rombongan kami berangkat ke desa untuk melaunch community of practice yang pertama. Targetnya CoP akan dilaksanakan 2 minggu sekali. Hasil dari CoP 1, sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda keberanian untuk mencoba-coba hal yang baru. Sebelum mereka memasuki CoP yang kedua mereka diberi peluang untuk mengikuti pameran kue di wilayah sekitar yang diadakan oleh Pemda. Tidak terlalu banyak yang diimpikan dari pameran, selain membangun ladang harapan.

Labels: ,

Thursday, August 16, 2007

KEMANA PARA REMAJA ?

Mengenai remaja yang tidak mengikuti program pengembangan keterampilan, saya juga sempat bertanya kepada seorang guru yang mengaku memilih peserta, beliau mengatakan bahwa para remaja yang menjadi kriteria sebagian besar sudah merantau ke kota-kota besar, yang belum pun sedang bersiap-siap untuk merantau. Dengan kondisi demikian, sayang kiranya jika nantinya ilmu yang diberikan kepada mereka ikut dibawa pergi dan tidak ada yang tinggal di desa. Oleh karena itu, beliau mengatakan mengambil inisiatif untuk memilih anak-anak berusia di bawahnya dengan pertimbangan mereka lebih lama tinggal di desa, sampai mereka kelak akan pergi meninggalkan desa mengikuti jejak kakak-kakak mereka jika perekonomian di desa belum dianggap layak untuk memberikan nafkah kehidupan.

Di kesempatan yang berbeda, saya juga mendapatkan curahan perhatian dari salah satu rekan yang ikut mempersiapkan penataan ruangan sehari sebelum acara berlangsung. Beliau mengatakan kurangnya kepedulian kaum remaja di desa baik kepada program itu sendiri maupun kepada desanya. Hal ini setidaknya diindikasikan berdasarkan pengalaman Beliau yang seorang perempuan, saat menggotong meja dan kursi yang cukup berat bagi kaum perempuan dan beberapa remaja lewat di depan balai desa, namun tidak ada sedikit pun niat untuk membantu, mereka hanya lewat saja tanpa merasa perlu untuk terlibat. Tidak satu pun remaja terlibat membantu persiapan acara, yang ada hanyalah para pamong desa yang terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa. Rekan saya tersebut bahkan mengambil kesimpulan awal, bahwa para remaja di desa sangat bersifat individualistis dan tidak peduli sama sekali terhadap desa sendiri.

Ini baru gejala awal, belum dapat ditarik kesimpulan. Tapi setidaknya, dapat sedikit terlihat bahwa ada satu kalangan yang tidak lengkap di desa Mekarjaya, yaitu kaum remaja. Pada program sebelumnya, kita berhasil menarik kalangan anak-anak SD, SMP, dan Ibu-ibu untuk aktif membangun desa mereka melalui program Desa Kita. Namun ketika kita hendak beranjak ke kalangan yang belum disentuh sebelumnya, yaitu kaum remaja, terlihat adanya gejala yang berbeda.

Untuk dapat menyimpulkan apakah yang menjadi gejala awal ini benar-benar ada atau tidak, perlu pengumpulan data yang lebih lengkap. Namun jika memang gejala ini benar-benar ada, maka mungkin (menurut saya) kita mau tidak mau memutus generasi remaja usia SMA ke atas dalam program Desa Kita. Biarkanlah mereka mengejar tuntutan kebutuhan jangka pendek mereka, karena kita pun tidak mungkin dapat memenuhinya. Selanjutnya kita dapat membidik generasi di bawahnya, yaitu usia SMP untuk bersiap-siap menyongsong desa mereka yang baru, yang lebih menjanjikan sehingga kelak ketika mereka mencapai usia kakak mereka, mereka tidak perlu mencari hidup di tempat lain, karena di desa mereka pun mereka bisa memperolehnya. Kita bisa berharap bahwa ketika mereka menjadi benar-benar remaja, mereka bisa membantu orang tua mereka mengembangkan usaha yang menjanjikan di desa Mekarjaya yang pasar dari produknya juga menjangkau kota-kota besar.

Alternatif kedua, kita tetap memberdayakan remaja, hanya yang diberdayakan adalah remaja yang tinggal di desa, yaitu remaja wanita. Tantangan yang dihadapi jika memilih alternatif kedua adalah ketika remaja wanita ini sudah memiliki tradisi yang kuat yang menghambat perkembangannya, seperti misalnya bahwa setelah tamat SMP, mereka mempersiapkan diri menjadi pendamping suami. Ini baru permisalan, karena belum diketahui apakah yang terjadi seperti itu.

Labels: ,

Friday, August 10, 2007

ANOTHER TRIP TO MEKAR JAYA

I felt that time is moving very slowly and so is our program everywhere in all those villages. Unless it is handled then people will read our news as bragging. No choice but move on to the next step.
Here comes the story of another trip to Mekar Jaya. A bundle of program need to be settled. We started with the cooking class. This is meant to be the second cooking class. With the assistance of our consultant we have gone through the first. Then the product was launched during the 58th anniversiry of my organization. In terms of quality it wasnt bad, but I cant say it's good. However, the event has put them in a motivation roller coaster. Unless we manage their motivation, it will fade out.
The second cooking class was meant to improve the process of cooking. I was lucky that the Natural Cooking Class assisted me. I like their process in which Ibu-ibu are encouraged to form a community of practice without even mentioning the jargons. Hopefully it works, though I know that another intervention need to be organized. Out of this second class, their process in cookie production was sharpened. The next motivation roller coaster will be on, when they are asked to produce cookies for Lebaran. Should they manage to do this, then I have the third cooking class in mind, aiming at improving the taste. Melt in your tongue and twirl your mind. That might sound like a good tag line for their product.
Beside the cooking class, we also kicked off the Teater Sampah. Basically creativity and sense of art is the end goal of this program. It is aimed at children up to year four. We tease their spirit with an initial movie. They looked happy and sounded excited. I could not wait for the next day program to start for I had to go home. On the next day program, they would be asked to write down a simple story and created the puppets for the performance. The puppets are made of recycle stuff. This program covers art, creativity and environmental issues.
I am not really keen on the computer and English program, because they dont meet my expectation. Those involved in this program were not the people that I expect would run the whole information system in the village. They were just kids who were curious of Personal Computer. I just wonder if it is possible to build an information system with a bunch curious kids. I was expecting the teenagers to get involved and run the program. Eghhhh.....
English was held for the sake of "I dont know what". I expected to see English for computers, but again....kids were attending this class. As I went through the classes...goodness.... they were irrelevant. I dont know what to say, english and computers are held to meet the requirements of a knowledge village, it's not there for the sake of entertaining people with twirling expectations that through the program they would be able to use the computers and english. Anyway...another program has to be run to make the dream come true, but this time we have to start with another angle. Maybe the concept of having a database for the cooking class will do. Let's see!!!
I love the educational program. We have managed to speak with the Kasudin and the principal as well the teachers. They themselves stated that they wanted to be Sekolah Unggulan, though they know that the roads ahead are steep and winding and they are the key players.
Anyway, another program and another trip. I still have two other Desa in my mind that need to be rocked.

Labels: , ,

Thursday, July 05, 2007

STARLET

Elis nama panggilannya. Elis adalah salah satu wartawati cilik yang terlibat dalam program Desa Kita. Dia hadir di hadapan saya dan berkata: "Elis dan teman-teman mau mengucapkan terima kasih pada kantor Ibu. Rasanya seperti mimpi, Elis sekarang sudah diminta untuk menjadi penyiar di salah satu radio. Awalnya Elis jadi MC untuk suatu acara. Radio tersebut langsung mengajak Elis untuk bekerja jadi penyiar. Elis senang sekali."
Sedetikpun Elis tidak memberi peluang untuk disela. Luapan kegembiraan yang penuh di dada tumpah ke dalam tutur yang mengalir.
Tak lama kemudian Elis bersama dengan 2 peserta dari Desa Manding dan Desa Ilepadung naik ke panggung dalam rangka menyampaikan ucapan terima kasih kepada lembaga tempat saya bekerja. Dua lainnya berbicara dalam bahasa Indonesia yang disisipkan logat dan kosa kata daerah masing-masing. Ketika tiba pada giliran Elis, dia berdiri dengan pasti memandangi hadirin dan sebuah puisi meluncur dan mengalun dari bibirnya. Puisi yang dibuatnya sendiri dan disampaikan dengan penuh rasa ketulusan sehingga membuat mata sebagian hadirin berkaca-kaca. Tepuk tangan yang panjang menyambut bagian akhir dari puisi Elis.
Kebahagiaan yang tidak terbayarkan oleh segala kebendaan di dunia ini adalah ketika sebuah bintang kecil lahir dari program Desa Kita. Bintang yang diharapkan dapat menerangi dan memotivasi anak-anak lain di desa-desa lain. Sebuah bintang yang entah seberapa kecil, tapi tetap menjadi cahaya dalam kekelaman malam. Sebuah bintang kecil sebagaimana digambarkan oleh Gareth Lancaster dalam bagian puisinya yang sederhana:

Look at the stars,
Way up there,
So very far away.
High in the sky,
They shine so white,
And never seem to stray
A starlet was the birthday present for the organization.

Labels: ,

Wednesday, June 13, 2007

GABPRES

Pentingnya informasi dalam sebuah desa pengetahuan adalah mutlak. Membuat informasi sebagai bagian dari kehidupan mereka adalah wajib. Kepada para remaja di desa mulai diperkenalkan rasa nyaman dalam bergaul dengan informasi. Kalau sebelumnya ada pustakawan , berikut ini wartawan. Ya...wartawan cilik!!!
Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, diawali dengan mengasah sensitivitas terhadap peristiwa di lingkungan yang dapat dijadikan berita serta persiapan dalam mengembangkan dan mengolah berita. Kebetulan pada saat bersamaan ada peresmian penggunaan bangunan-bangunan yang sudah siap. Dipilih 10 orang wartawan cilik yang diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara secara real. Bayangkan saja, baru terjun sudah mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Bapak Bupati, Ibu-ibu Pimpinan. Untuk memacu keberanian, maka dibentuk kelompok yang akan mewawancarai dan menuliskan hasil wawancara tersebut. Proses wawancara yang berlangsung menarik perhatian masyarakat dan bahkan dijadikan berita dalam salah satu majalah yang sudah mapan di negeri ini. Dapat dibayangkan remaja SD dan SMP mewawancarai petinggi negara.
Kalau di awalnya mereka diberi kesempatan untuk mengasah sensitivitas dan uji nyali dalam berkiprah di dunia wartawan, maka program selanjutnya adalah mengajarkan cara menulis yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang diatur dalam dunia wartawan. Sebagaimana dalam proses sebelumnya, mereka juga dibantu kakak-kakak yang sudah bergelut sebagai profesional di bidang kewartawanan, sebuah transfer pengetahuan secara langsung dari ahlinya (Nancy Dixon dalam Common Knowledge menjabarkan 5 jenis transfer pengetahuan dalam Knowledge Management, salah satunya adalah transfer dari ahli). Mereka dilatih untuk membuat berita dan proses ini mencatat berbagai kisah menarik dan lucu yang akan digambarkan dalam kesempatan lain.
Agar program ini tidak berhenti di tengah jalan, maka dibentuk pula kepengurusan yang melibatkan guru dan kepala desa serta dilakukan urun rembug mengenai nama media desa yang akan diterbitkan. Berbagai usulan bermunculan sebelum akhirnya disepakati untuk menetapkan Gabpres sebagai nama majalah remaja Desa Kita. Gabpres merupakan kependekan dari Gabungan Anak Berprestasi. Penerbitan perdana Gabpres akan dilakukan pada bulan Juli 2007. Selamat datang ke dunia informasi Anak Berprestasi.

Labels: , , ,

Tuesday, June 12, 2007

MENJADI LILIN

Ada banyak fenomena yang aneh yang bergulir terus di tengah masyarakat. Sebagian orang mati-matian ingin belajar sebagian lagi mati-matian ingin berhenti belajar. Terus belajar adalah salah satu prasyarat dalam membangun desa pengetahuan yang sustainable. Bagaimana caranya agar upaya untuk terus belajar dapat tumbuh dan berkembang di desa pengetahuan.
Salah satu program yang digulirkan di Desa Kita adalah membangun rumah pengetahuan atau perpustakaan. Sekarang bagaimana caranya untuk mengubah a house menjadi a home. Bagaimana menjadikan perpustakaan tempat yang nyaman untuk belajar, tanpa paksaan.
Salah satu prasyarat untuk membangun sebuah home adalah kepemilikan. Kepemilikan yang dimaksudkan disini bukan kepemilikan hukum, tapi keinginan untuk memelihara yang dilandaskan pada cinta kasih. Untuk sampai ke taraf tersebut maka anak-anak sekolah dan guru perlu dilibatkan dalam proses pembangunan perpustakaan. Ada banyak bentuk keterlibatan yang dapat dikembangkan dari mulai ikut mengusulkan buku, menjadi pengurus dan ikut memelihara dan terlibat dalam operasionalisasi perpustakaan.
Perpustakaan Desa Kita diberi nama Perpustakaan SD Mekar Jaya. Koleksi buku mencapai 4000 koleksi yang mencakup berbagai isu seperti buku pelajaran sekolah, referensi, koleksi agama, koleksi kuliner, koleksi pertanian dan lain sebagainya. Sebagian dari buku-buku tersebut merupakan usulan penduduk Desa Mekar Jaya yang dirangkum dalam beberapa pertemuan.
Dalam proses pembangunan fisik, penduduk desa Mekar Jaya dilibatkan sebagai bagian dari tenaga kerja pembangunan perpustakaan dan juga bangunan-bangunan lainnya. Dalam pembangunan isi dari perpustakaan, dikerahkan sejumlah murid yang tergabung dalam program pustakawan cilik. Kepada mereka diberikan juga kesempatan untuk mengenal cara klasifikasi buku, membuat kantong kartu, menyampul buku. Tujuan dari kegiatan-kegiatan tersebut agar mereka lebih mencintai buku-buku yang ada. Selanjutnya dibuat program majalah dinding yang pengelolaannya dilakukan pula oleh para murid dibawah bimbingan seorang guru. Dalam proses operasionalisasi perpustakaan, para pustakawan cilik terlibat secara bergilir untuk melaksanakan operasionalisasi perpustakaan. Sementara itu pengurus perpustakaan terdiri dari kepala sekolah dan beberapa orang guru. Keterlibatan diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan rasa cinta diharapkan mendorong timbulnya kepemilikan. Kepemilikan pada akhirnya akan mendorong sustainability keberadaan perpustakaan.
Problema terbesar lainnya selain kepemilikan adalah keuangan. Entah seberapa besar keinginan untuk berkembang tanpa ada dukungan finansial akan sulit dilaksanakan. Sejauh ini telah dirancang program sederhana untuk dukungan keuangan bagi perpustakaan yang bersumber dari pengelolaan perpustakaan itu sendiri. Tentunya jumlah tersebut masih terbatas. Untuk sementara pengembangan memang masih berada dalam bagian dari program. Ke depan, bila program perekonomian telah bergulir akan ada subsidi silang dari program tersebut untuk perpustakaan. Mudah-mudahan mereka tidak membacanya sebagai salah satu bentuk pajak tambahan. Rancangan keuangan memang akan mudah dilaksanakan di atas kertas, namun sulit dilaksanakan. Mudah-mudahan semua berjalan sesuai dengan rencana. Satu harapan kecil yang terselip di benak ini adalah kesediaan Pemda untuk membantu keuangan agar sustainability terjaga.
Sejauh ini perpustakaan telah berdiri selama 6 bulan dan telah dioperasionalisasikan, jumlah pengunjung masih dalam taraf yang relatif menengah. Dalam lomba kue yang dilaksanakan antara Ibu PKK, pemenangnya adalah orang yang belum pernah membuat kue, tapi hanya mengikuti resep yang tertera di salah satu buku kuliner yang tersedia di perpustakaan. Pak Kepala Desa juga dengan piawai berdebat soal tanaman jarak yang akan konon katanya akan ada investor dari kota. Pengetahuan tersebut diperoleh pak Kades dari buku tentang tanaman jarak yang tersedia di Perpustakaan. Majalan Dinding sudah terbit 2 x dan tampaknya masih membutuhkan dorongan untuk terus berkembang, baik dalam tampilan maupun dalam frekuensi penerbitan.
Ada banyak harapan yang timbul dari program di Desa Kita. Pemenuhan harapan hanya bisa tercipta bila ada koordinasi, dan bukan kecaman. Lebih baik menyalakan lilin daripada mencela kegelapan.

Labels: , , ,

Sunday, July 23, 2006

KERIAAN

Tepatnya pada hari Rabu, tanggal 20 Juli 2006 di Desa Mekarjaya. Gadis-gadis berpupur dan bergincu, kakek berkopiah hitam, ibu menggendong bayi dan bocah yang lendir hidungnya mengering di pipi hadir di sekolah SDN Mekarjaya. Masih ada ratusan dan bahkan ribuan gadis berpupur, kakek berkopiah, ibu dan bayi serta bocah-bocah lainnya disana. Kekeringan yang melanda desa Mekarjaya dibasahi oleh hujan keriaan yang membawa harapan.

Kehadiran pimpinan tertinggi untuk meresmikan program Desa Kita di sambut secara luar biasa untuk ukuran desa Mekarjaya. Di mata-mata yang hadir terbersit berbagai harapan. Harapan yang dikhawatirkan bukan merupakan harapan yang sama dengan yang ditargetkan. Harapan biasanya dikaitkan dengan wishful thinking, mimpi bersama, dari ketidakberwujudan menjadi kenyataan. potensi-potensi kedua belah pihak yang seharusnya disintesakan terlupakan begitu saja, seperti bibit padi yang menggoler dan mengering karena ketiadaan air yang membasahinya, kehilangan potensinya, hanya karena hujan alpa hadir.
Kering dan getas, bumi Mekarjaya. Gemerlap lampu kota mengundang penduduk Mekarjaya untuk mencari perbaikan nasib di sana. Indotel, Indo Mie Telor, mata pencaharian di kota. Solusi semu. Menggeser masalah dari desa ke kota dan kembali lagi ke desa. “Permasalahan di kota, penyelesaiannya di desa, permasalahan di desa, penyelesaiannya di kota”, ujar pimpinan tertinggi. Mekarjaya, bukan hanya Mekarjaya, tapi bagian dari kehidupan kita. Desa Kita.

Harapan, juga ada di mata pimpinan. Harapan agar penduduk Mekarjaya menyadari bahwa solusi hanya ada di diri mereka, ada pada potensi mereka. Lembaga yang dipimpinnya hanya memberikan sarana, membantu proses, tapi semuanya berpulang pada mereka sendiri. Rampak gendang menyambut kehadiran Putra Harapan. Mengalunkan irama ceria yang membungkus rintihan kemiskinan. Suaranya bertalu-talu menghardik nurani, menggetarkan langit.

Labels: ,

Friday, July 14, 2006

RAMBUT DAN KUMIS TIPIS SERTA CINCIN BERBATU

Derit roda kereta yang menggilas rel besi berdentam-dentam mengoyak kesunyian malam. Perjalanan kereta malam seperti titik, koma dan tanda tanya. Akhir perjalanan sebuah hari yang meninggalkan buah-buah pikir yang menggelantung di bibir malam. Buah pikir perjalanan ini, perjalanan desa kita hari ini, dari Kantor Bupati di Kuningan kembali ke Jakarta.

Pada awalnya, rambut dan kumis yang mulai menipis dilengkapi dengan cincin berbatu menghadirkan banyak pertanyaan di benak ini. Kecurigaan memang nama tengah masyarakat kita. Tapi masyarakat juga tidak dapat dipersalahkan begitu saja. Kecurigaan tersebut memang telah lahir dari banyaknya ulah mereka yang ’berambut dan kumis tipis mengenakan cincin berbatu’ yang lainnya . Sudah menjadi semacam prototype dalam menilai pria ’berambut dan kumis tipis dengan cincin berbatu’. Tapi yang satu ini tampaknya beda. Dia menjadi semakin beda ketika dia berujar: ”Jangan melakukan pemerkosaan!. Niat baik orang lain untuk menolong harus disambut dengan rencana nyata untuk mengimbangi pertolongan tersebut. Kalau kita hanya mengharapkan pertolongan tanpa melakukan apa-apa, itu yang saya sebut tadi ’pemerkosaan’.!” Duh.... masih ada yang seperti ini di jajaran pemerintah daerah rupanya. Mudah-mudahan apa yang kita lihat dan dengar bukan hanya sebuah bungkusan. Tapi sebuah bongkah emas yang selama ini berselimut debu kecurigaan.

Desa Kita terfokus pada aspek pendidikan, kesehatan, lingkungan dan perekonomian. Duet antara program Desa Kita dan program Pemda akan berjalan seiring menembus batas angan menuju bentangan realita. Untuk pendidikan, peningkatan fasilitas sekolah berupa perpustakaan dan rumah baca serta program cinta membaca dari Desa Kita akan dilengkapi oleh program wajib belajar dari Pemda. Pembangunan fasilitas kesehatan dari program desa kita akan dilengkapi dengan peralatan kesehatan oleh Pemda, Pembangunan irigasi dari Desa Kita akan dilengkapi dengan pelatihan pengawas air oleh Pemda dan Program Pelestarian Hutan Jati Emas dari Pemda akan dilengkapi dengan bibit dari program Desa Kita. Sekilas, it comes out right!. Program Desa Kita dan Program Pemda berjalan searah, seimbang. Tidak terjadi ’pemerkosaan’ dan terjalin secara cukup seimbang.

Penduduk desa.... gosh... hampir terlupakan! Bagaimana mungkin? Peran kita ini diumpamakan sebagai pihak keluarga yang merasa bertanggung jawab untuk melaksanakan perhelatan perkawinan. Aktivitas dan kesibukan telah menciutkan pandangan besar kita menjadi myopic. Sibuk mematut-matut gaun untuk diri sendiri, dan melupakan gaun sang pengantin. Sederhana sebenarnya, tapi seringkali terjadi. Penduduk desa, sang pengantin yang terlupakan Kapan ya waktunya penduduk desa diundang untuk memberikan pendapat atas program Desa Kita?????.

Labels: , , ,