Friday, August 10, 2007

ANOTHER TRIP TO MEKAR JAYA

I felt that time is moving very slowly and so is our program everywhere in all those villages. Unless it is handled then people will read our news as bragging. No choice but move on to the next step.
Here comes the story of another trip to Mekar Jaya. A bundle of program need to be settled. We started with the cooking class. This is meant to be the second cooking class. With the assistance of our consultant we have gone through the first. Then the product was launched during the 58th anniversiry of my organization. In terms of quality it wasnt bad, but I cant say it's good. However, the event has put them in a motivation roller coaster. Unless we manage their motivation, it will fade out.
The second cooking class was meant to improve the process of cooking. I was lucky that the Natural Cooking Class assisted me. I like their process in which Ibu-ibu are encouraged to form a community of practice without even mentioning the jargons. Hopefully it works, though I know that another intervention need to be organized. Out of this second class, their process in cookie production was sharpened. The next motivation roller coaster will be on, when they are asked to produce cookies for Lebaran. Should they manage to do this, then I have the third cooking class in mind, aiming at improving the taste. Melt in your tongue and twirl your mind. That might sound like a good tag line for their product.
Beside the cooking class, we also kicked off the Teater Sampah. Basically creativity and sense of art is the end goal of this program. It is aimed at children up to year four. We tease their spirit with an initial movie. They looked happy and sounded excited. I could not wait for the next day program to start for I had to go home. On the next day program, they would be asked to write down a simple story and created the puppets for the performance. The puppets are made of recycle stuff. This program covers art, creativity and environmental issues.
I am not really keen on the computer and English program, because they dont meet my expectation. Those involved in this program were not the people that I expect would run the whole information system in the village. They were just kids who were curious of Personal Computer. I just wonder if it is possible to build an information system with a bunch curious kids. I was expecting the teenagers to get involved and run the program. Eghhhh.....
English was held for the sake of "I dont know what". I expected to see English for computers, but again....kids were attending this class. As I went through the classes...goodness.... they were irrelevant. I dont know what to say, english and computers are held to meet the requirements of a knowledge village, it's not there for the sake of entertaining people with twirling expectations that through the program they would be able to use the computers and english. Anyway...another program has to be run to make the dream come true, but this time we have to start with another angle. Maybe the concept of having a database for the cooking class will do. Let's see!!!
I love the educational program. We have managed to speak with the Kasudin and the principal as well the teachers. They themselves stated that they wanted to be Sekolah Unggulan, though they know that the roads ahead are steep and winding and they are the key players.
Anyway, another program and another trip. I still have two other Desa in my mind that need to be rocked.

Labels: , ,

Wednesday, June 13, 2007

GABPRES

Pentingnya informasi dalam sebuah desa pengetahuan adalah mutlak. Membuat informasi sebagai bagian dari kehidupan mereka adalah wajib. Kepada para remaja di desa mulai diperkenalkan rasa nyaman dalam bergaul dengan informasi. Kalau sebelumnya ada pustakawan , berikut ini wartawan. Ya...wartawan cilik!!!
Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, diawali dengan mengasah sensitivitas terhadap peristiwa di lingkungan yang dapat dijadikan berita serta persiapan dalam mengembangkan dan mengolah berita. Kebetulan pada saat bersamaan ada peresmian penggunaan bangunan-bangunan yang sudah siap. Dipilih 10 orang wartawan cilik yang diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara secara real. Bayangkan saja, baru terjun sudah mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Bapak Bupati, Ibu-ibu Pimpinan. Untuk memacu keberanian, maka dibentuk kelompok yang akan mewawancarai dan menuliskan hasil wawancara tersebut. Proses wawancara yang berlangsung menarik perhatian masyarakat dan bahkan dijadikan berita dalam salah satu majalah yang sudah mapan di negeri ini. Dapat dibayangkan remaja SD dan SMP mewawancarai petinggi negara.
Kalau di awalnya mereka diberi kesempatan untuk mengasah sensitivitas dan uji nyali dalam berkiprah di dunia wartawan, maka program selanjutnya adalah mengajarkan cara menulis yang baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang diatur dalam dunia wartawan. Sebagaimana dalam proses sebelumnya, mereka juga dibantu kakak-kakak yang sudah bergelut sebagai profesional di bidang kewartawanan, sebuah transfer pengetahuan secara langsung dari ahlinya (Nancy Dixon dalam Common Knowledge menjabarkan 5 jenis transfer pengetahuan dalam Knowledge Management, salah satunya adalah transfer dari ahli). Mereka dilatih untuk membuat berita dan proses ini mencatat berbagai kisah menarik dan lucu yang akan digambarkan dalam kesempatan lain.
Agar program ini tidak berhenti di tengah jalan, maka dibentuk pula kepengurusan yang melibatkan guru dan kepala desa serta dilakukan urun rembug mengenai nama media desa yang akan diterbitkan. Berbagai usulan bermunculan sebelum akhirnya disepakati untuk menetapkan Gabpres sebagai nama majalah remaja Desa Kita. Gabpres merupakan kependekan dari Gabungan Anak Berprestasi. Penerbitan perdana Gabpres akan dilakukan pada bulan Juli 2007. Selamat datang ke dunia informasi Anak Berprestasi.

Labels: , , ,

Tuesday, June 12, 2007

MENJADI LILIN

Ada banyak fenomena yang aneh yang bergulir terus di tengah masyarakat. Sebagian orang mati-matian ingin belajar sebagian lagi mati-matian ingin berhenti belajar. Terus belajar adalah salah satu prasyarat dalam membangun desa pengetahuan yang sustainable. Bagaimana caranya agar upaya untuk terus belajar dapat tumbuh dan berkembang di desa pengetahuan.
Salah satu program yang digulirkan di Desa Kita adalah membangun rumah pengetahuan atau perpustakaan. Sekarang bagaimana caranya untuk mengubah a house menjadi a home. Bagaimana menjadikan perpustakaan tempat yang nyaman untuk belajar, tanpa paksaan.
Salah satu prasyarat untuk membangun sebuah home adalah kepemilikan. Kepemilikan yang dimaksudkan disini bukan kepemilikan hukum, tapi keinginan untuk memelihara yang dilandaskan pada cinta kasih. Untuk sampai ke taraf tersebut maka anak-anak sekolah dan guru perlu dilibatkan dalam proses pembangunan perpustakaan. Ada banyak bentuk keterlibatan yang dapat dikembangkan dari mulai ikut mengusulkan buku, menjadi pengurus dan ikut memelihara dan terlibat dalam operasionalisasi perpustakaan.
Perpustakaan Desa Kita diberi nama Perpustakaan SD Mekar Jaya. Koleksi buku mencapai 4000 koleksi yang mencakup berbagai isu seperti buku pelajaran sekolah, referensi, koleksi agama, koleksi kuliner, koleksi pertanian dan lain sebagainya. Sebagian dari buku-buku tersebut merupakan usulan penduduk Desa Mekar Jaya yang dirangkum dalam beberapa pertemuan.
Dalam proses pembangunan fisik, penduduk desa Mekar Jaya dilibatkan sebagai bagian dari tenaga kerja pembangunan perpustakaan dan juga bangunan-bangunan lainnya. Dalam pembangunan isi dari perpustakaan, dikerahkan sejumlah murid yang tergabung dalam program pustakawan cilik. Kepada mereka diberikan juga kesempatan untuk mengenal cara klasifikasi buku, membuat kantong kartu, menyampul buku. Tujuan dari kegiatan-kegiatan tersebut agar mereka lebih mencintai buku-buku yang ada. Selanjutnya dibuat program majalah dinding yang pengelolaannya dilakukan pula oleh para murid dibawah bimbingan seorang guru. Dalam proses operasionalisasi perpustakaan, para pustakawan cilik terlibat secara bergilir untuk melaksanakan operasionalisasi perpustakaan. Sementara itu pengurus perpustakaan terdiri dari kepala sekolah dan beberapa orang guru. Keterlibatan diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan rasa cinta diharapkan mendorong timbulnya kepemilikan. Kepemilikan pada akhirnya akan mendorong sustainability keberadaan perpustakaan.
Problema terbesar lainnya selain kepemilikan adalah keuangan. Entah seberapa besar keinginan untuk berkembang tanpa ada dukungan finansial akan sulit dilaksanakan. Sejauh ini telah dirancang program sederhana untuk dukungan keuangan bagi perpustakaan yang bersumber dari pengelolaan perpustakaan itu sendiri. Tentunya jumlah tersebut masih terbatas. Untuk sementara pengembangan memang masih berada dalam bagian dari program. Ke depan, bila program perekonomian telah bergulir akan ada subsidi silang dari program tersebut untuk perpustakaan. Mudah-mudahan mereka tidak membacanya sebagai salah satu bentuk pajak tambahan. Rancangan keuangan memang akan mudah dilaksanakan di atas kertas, namun sulit dilaksanakan. Mudah-mudahan semua berjalan sesuai dengan rencana. Satu harapan kecil yang terselip di benak ini adalah kesediaan Pemda untuk membantu keuangan agar sustainability terjaga.
Sejauh ini perpustakaan telah berdiri selama 6 bulan dan telah dioperasionalisasikan, jumlah pengunjung masih dalam taraf yang relatif menengah. Dalam lomba kue yang dilaksanakan antara Ibu PKK, pemenangnya adalah orang yang belum pernah membuat kue, tapi hanya mengikuti resep yang tertera di salah satu buku kuliner yang tersedia di perpustakaan. Pak Kepala Desa juga dengan piawai berdebat soal tanaman jarak yang akan konon katanya akan ada investor dari kota. Pengetahuan tersebut diperoleh pak Kades dari buku tentang tanaman jarak yang tersedia di Perpustakaan. Majalan Dinding sudah terbit 2 x dan tampaknya masih membutuhkan dorongan untuk terus berkembang, baik dalam tampilan maupun dalam frekuensi penerbitan.
Ada banyak harapan yang timbul dari program di Desa Kita. Pemenuhan harapan hanya bisa tercipta bila ada koordinasi, dan bukan kecaman. Lebih baik menyalakan lilin daripada mencela kegelapan.

Labels: , , ,

Friday, July 07, 2006

STARTING WITH THE END IN MIND

Biarpun ini pemikiran mengenai Desa Kita kagetan, tidak pernah terbersit sedikitpun bahwa ini adalah sesuatu yang remeh-temeh. In fact, ini harus jadi model panutan. Bayangkan saja, kalau setiap organisasi memilih satu desa untuk dibantu secara terfokus! Tapi bagaimana? Berbagai literatur membahas masalah ini dan banyak ide-ide liar yang menari-nari di benak. Permasalahannya bukan ide. Siapa saja bisa mimpi dan boleh mimpi, tapi bagaimana mengalirkan mimpi menjadi kenyataan, that’s the art of management. Mengalirkan ide menjadi suatu konsep yang terstruktur.

“Starting with the end in Mind”…. Mungkinkah menjahit baju tanpa pola?; atau membangun rumah tanpa blue print? Mungkin saja…tapi baju dan rumah apa yang di dapat? Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu diajukan adalah “Mengapa program ini ada?”, mengapa program ini diperlukan?” Program ini ada karena setiap lembaga memiliki kewajiban untuk menciptakan nilai tambah, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk masyarakat. Duh..kesannya sok ideal gitu. Coba ideal dikit nggak apa-apa juga kali ya. Nilai tambah apa yang bisa ditautkan dengan produk lembaga?

Bermimpi bukan hanya buah tidur. Reality leaves a lot to the imagination, kata John Lennon; I dream my painting and then paint my dream, kilah Vincent van Gogh. Mimpi dan realita agar ditata untuk duduk setara, tidak berseberangan. Terlalu naif kalau bicara tentang mimpi yang besar untuk Desa Kita. Cukup sebatas adanya sebuah kesadaran akan potensi dan peluang untuk pemberdayaan potensi mereka. Kalau sudah ada semangat dan selanjutnya menyadari potensi diri, rasanya sudah luar biasa. This is the end but the end in mind. Ini suatu awal.

Bagaimana caranya untuk membuat the end in mind, yang adalah sebuah mimpi bersanding setara dengan realita. Salah seorang Pimpinan Tertinggi di lembaga ini berpendapat:"Harus mulai dari ekonominya. Kalau ekonominya sudah membaik, otomatis yang lain akan ikut baik." Otomatis, catet!!! Mesin bisa otomatis, tapi we are dealing with human and zillions of their complicacies. Masih inget 30 juta untuk restorasi rumah rakyat di Yogya? Menurut Cak Nun (lagi-lagi Cak Nun, biar aja... dia memang pantes dikagumi) dampaknya lebih hebat dari gempa itu sendiri???? Iming-iming tersebut telah membuat orang Yogya yang mulai termotivasi untuk membangun wilayahnya menjadi termotivasi untuk menantikan uang kaget dan uang-uang kaget lainnya. Yah..kalau dari pelajaran ini, manusianya menjadi lebih penting, terutama values dan perilakunya. Mau di debat lagi juga bisa sih! Kayak telur dan ayam….

Telur dan ayam?? Mana duluan? Ntar dulu... kita lihat dulu yah...sebenarnya seperti apa sih profil desa yang dijadikan ”Desa Kita”. Kepentingan Desa Kita yang harus di dahulukan, bukannya keinginan kit, apalagi cuma masalah telur dan ayam.

Labels: ,